PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG
Indonesia merupakan negara majemuk dengan beragam suku dan budaya.
Pembangunan di Indonesia dewasa ini
merujuk pada pembangunan yang berbasis pada masyarakat. Pengembangan masyarakat
merupakan salah satu upaya dalam melakukan pembangunan. Pengembangan masyarakat
menitikberatkan kepada partisipasi masyarakat. Kegiatan swadaya yang
dilaksanakan oleh masyarakat memerlukan partisipasi masyarakat. Sinergi antara
masyarakat dengan stakeholder terkait seperti pemerintah dan pihak
swasta diperlukan guna menunjang usaha swadaya masyarakat. Tujuan dari usaha
swadaya masyarakat adalah menigkatkan taraf hidup masyarakat yang artinya
berujung pada kesejahteraan dibidang ekonomi dan sosial. Agar tercapai
pembangunan yang efektif diperlukan inisiatif dari masyarakat serta adanya
pelayanan teknis untuk masyarakat.
Partisipasi masyarakat diperlukan untuk melakukan program
pengembangan masyarakat. Upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat
digunakan metode-metode partisipatif. Terdapat tiga pendekatan pendampingan
masyarakat yaitu pendekatan menolong diri sendiri, pendampingan teknik, dan
pendekatan konflik. Pendekatan menolong diri sendiri menitikberatkan pada peran
masyarakat sebagai partisipan dalam melakukan kegiatan dan juga kontrol
kegiatan, pendamping hanya sebatas fasilitator. Pendekatan pendampingan teknik
mendasarkan pada perkiraan kebutuhan oleh para perencana yang dapat
mengantarkan dan mengevaluasi proses pengembangan masyarakat. Pendekatan
konflik menekankan pada upaya-upaya untuk menyadarkan masyarakat bahwa yang
dilakukan oleh orang lain juga baik jika dilakukan oleh masyarakat tersebut.
PEMBAHASAN
A.
Pendekatan
Masyarakat
Pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk dan menciptakan
masyarakat sesuai dengan yang diharapkan. Dengan adanya pendidikan, apa yang
diciti-citakan masyarakat dapat diwujudkan melalui anak didik sebagai generasi
masa depan. Salah satu peran pendidikan dalam masyarakat adalah dalam fungsi
sosial, yakni sekolah merupakan salah sarana pendidikan yang diharapkan.
Sekolah dalam menanamkan nil;ai-nilai dan totalitas terhadap
tatanan tradisional masyarakat berfungsi sebagai lembaga pelayanan sekolah
untuk melakukan mekanisme kontrol sosial (social control). Dapat
diungkapkan dengan sederhana bahwa kerja sama sekolah, keluarga, dan komunitas
masyarakat dapat mengembangkan iklim dan program-program sekolah, memberikan
pelayanan kepada keluarga/orang tua, meningkatkan keterampilan dan kepemimpinan
bagi orang tua, menghubungkan keluarga dengan yang lainnya disekolah dan di
masyarakat, serta membantu pendidik dalam tugasnya. Sekolah juga mengenal
banyak menggunakan masyarakat sebagai sumber pelajaran memberikan kesempatan
luas dalam mengenal kehidupan masyarakat.
Pendekatan sistemik terhadap pengembangan masyarakat melalui
pendidikan adalah pendekatan di mana masyarakat tradisional sebagai input
dan pendidikan sebagai suatu lembaga pendidikan masyarakat sebagai pelaksana
proses pengembangan masyarkat yang dicita-citakan, sebagai output yang
dikehendaki. Ki. Hajar Dewantoro pernah mengatakan ada tiga lingkungan
pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sejak awal, dalam Tap MPR No.
1/MPR/1998 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) telah mencantumkan
bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab: orang tua, pemerintah dan masyarakat.
Tampak dalam Undang-undang No 2/20019 tentang sistem Pendidikan Nasional,
dikatakan pula bahwa bentuk pendidikan juga dibagi menjadi tiga: pendidikan
formal, informal, dan nonformal.[1]
Pendekatan Masyarakat ialah suatu langkah untuk mencapai tujuan
Pendidikan yang telah tercantum dalam Undang-undang No. 2/1999 yang menjelaskan
bahwa salah satu pendidikan yaitu pendidikan formal yang berjalan terdiri dari
empat jenjang: Sekolah Dasar/MI, Sekolah Menengah Pertama/MTs, Sekolah Menengah
Atas/MA dan Perguruan Tinggi/PT. Dari UU No. 2/1999 ini maka menjelaskan bahwa
pendidikan rakyat di Indonesia harus mencapai atau memenuhi kebutuhan
masyarakat yang mumpuni untuk kemajuan Bangsa dan Negara di Indonesia. Dengan
demikian maka akan terciptanya manusia Indonesia yang berilmu pengetahuan,
berteknologi dan beriman-bertaqwa (Iptek-Imtek), proses pendidikan pun harus
berupaya menuju kearah tujuan pembangunan nasional.
Community Based atau pendekatan yang Berbasis Masyarakat
adalah upaya pemberdayaan
kapasitas masyarakat untuk dapat mengenali, menalaah dan mengambil inisiatif
untuk memecahkan permasalahan yang ada secara mandiri. Tujuan dari pendekakatan yang
berbasis masyarakat adalah meningkatnya kapasitas masyarakat dan mencoba untuk menurunkan kerentanan
individu, keluarga dan masyarakat luas serta adanya perubahan masyarakat dalam
upaya menangani permasalahan yang terjadi di lingkungannya. Disamping itu
program berbasis masyarakat menggunakan pendekatan yang berbasis realita bahwa
dengan cara-cara yang relatif sederhana dan mudah dilaksanakan , maka
masyarakat di kalangan bawahpun dapat melakukan perubahan yang positif untuk
menuju ke arah yang lebih baik.
Sasaran dari program ini adalah masyarakat rentan
yang hidup didaerah rawan serta bersedia untuk menerima perubahan. Dan juga
Penekanan perencanaan program berbasis masyarakat lebih bersifat internal dari pada factor ekternal dengan
pendekatan bottom up, bukan top down. Potensial ancaman tidak di luar, namun di dalam
dengan sistem sosial. Untuk mengurangi tingkat ancaman / bahaya dan risiko
kejadian bencana harus menjadi bagian dari pertimbangan pembangunan.
Prinsip-prinsip utama atau teknik yang diperlukan dalam menjalankan program berbasis masyarakat adalah tercermin dalam akronim KAPASITAS yang dapat dijelaskan berikut ini:
1. Kemitraan
Program
berbasis masyarakat hanya akan berhasil optimal bila ada kemitraan, dan
partisipasi yang sangat tinggi dari semua komponen yang ada di sektor
masyarakat, pemerintah maupun institusi / LSM lainnya. Memperkuat kemitraan dan
partisipasi dalam hal ini tidak hanya diarahkan pada penyediaan dana, material
dan tenaga, namun juga dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan
evaluasianya, termasuk sustainabilitas program.
Memperkuat kemitraan dan partisipasi dimaksudkan juga membina
komunikasi, koordinasi dan kerjasama dari berbagai disiplin dan profesi terkait
seperti meteorologis, pekerja pengembangan masyarakat, praktisi kesehatan
ekonom, biolog, medis/ paramedis, geolog, pekerja sosial, insinyur, konselor,
guru dan sebagainya.
2. Advokasi
Program
berbasis masyarakat sangat memerlukan upaya advokasi, sosialisasi, dan
kolaborasi dari semua pihak yang berkepentingan dengan upaya memecahkan
permasalahan yang ada di masyarakat. Advokasi pada pihak-pihak internal PMI
(seperti staff, Pengurus, relawan dan para pelatih) maupun pihak-pihak
eksternal (seperti Pemerintah, Bakornas, Satkorlak, Satlak PB, LSM, Badan,
dinas, masyarakat dan instansi lainnya) sangat menentukan pelaksanaan
program maupun keberlangsungannya. Upaya advokasi ini diharapkan dapat membina
komunikasi dan kerjasama sama yang sangat kuat dalam mencapai tujuan program.
3. Pemberdayaan
Program
berbasis masyarakat diharapkan dapat menurunkan tingkat kerentanan masyarakat
dilaksanakan dengan memberdayakan kapasitas masyarakat. Tumbuhnya
ketidakpastian situasi lingkungan, fisik, sosial, ekonomi dan politik
menyebabkan warga dan masyarakat lainnya menjadi sangat rentan terhadap bahaya
dan dampak bencana. Hal ini memerlukan banyak upaya bagaimana masyarakat dapat
diberdayakan kapasitasnya melalui pengorganisasian / mobilisasi masyarakat
dalam kesiapsiagaan bencana, penyadaran sosial dan ekonomi, penyadaran
lingkungan, pendidikan / pelatihan dan sejenisnya.
Pemberdayaan
masyarakat dalam pengambilan keputusan, perencanaan, pembuatan kebijakan dan
program berbasis masyarakat, diperlukan agar masyarakat memiliki akses untuk mengontrol inputs,
proses, outputs dan keberlangsungan program berbasis masyarakat.
4. Analisis
Pelaksanaan
Program yang berbasis masyarakat harus berdasarkan hasil pengenalan situasi,
dan analisis internal dan eksternal secara mendalam tentang kondisi riil
masyarakat. Masyarakat harus diajak untuk mengenali situasi lingkungannya.
Setelah itu, mereka harus diajak untuk menganalisis internal dan eksternal
untuk mengetahui permasalahan yang ada , sekaligus penyebab dari permaslahan
itu sendiri.
Hasil
analisis yang dilakukannya oleh masyarakat itu sendiri, diharapkan dapat
membuat masyarakat menjadi sadar, bahwa ada hal-hal yang memicu kerentanan
mereka yang mereka buat sendiri atau karena lebih disebabkan karena faktor
eksternal. Mereka sadar bahwa mereka mestinya dapat mengatasi kerentanan
tersebut, asal mereka melakukan upaya-upaya penurunan tingkat bahaya, risiko
dan dampak yang terjadi.
5. Swadaya
Program
berbasis masyarakat menggunakan pendekatan Bottom – Up, bukan Top – Down.
Sebagai yang berbasis pada masyarakat, maka keberhasilan pelaksanaannya sangat
bertumpu pada swadaya masyarakat sendiri. Dalam artian, menggunakan
sumber-sumber daya, potensi, dan komponen-komponen yang telah dimiliki oleh
masyarakat. Mulai proses perencanaan,
pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, masyarakat harus diberikan peran
utama. Dalam proyek mitigasi misalnya,
harus memanfaatkan tenaga masyarakat, sumber-sumber material, infrastruktur serta
fasilitas yang ada. Peranan pihak eksternal adalah menfasilitasi dan
menambahkan sumber-sumber yang belum ada, yang pada akhirnya sepenuhnya akan
diserahkan pengelolaannya pada swadaya masyarakat.
6. Integrasi
Program
berbasis masyarakat mengintegrasikan model, instrument, metode, pendekatan dan
strategi dengan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang telah dimiliki oleh
masyarakat setempat. pada ummnya
masyaarakat memiliki pengethuan tersendiri dalam menghadapi permaslahan yang
ada baik yang rasional maupun yang irasional. Dan program ini mengintegrasikan berbagai pola dari
berbagai sumber namun tetap terintitusioan dalam pola dan tananan kehidupan
masyarakat setempat.
7. Terfokus
Program
berbasis masyarakat harus menfokus pada pemenuhan kebutuhan utama masyarakat ,
serta benar-benar memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Untuk itu, Program ini memerlukan
pemrograman sistem, prosedur dan pedoman operasional serta pelibatan penuh
masyarakat secara fisik, mental dan emosional. Maksud diperlukannya pemrograman
sistem, prosedur dan pedoman operasional adalah untuk memastikan efisiensi dan
pemanfaatan sumber-sumber daya seperti dana, waktu, material, informasi dan
teknologi yang benar-benar terfokus pada tujuan riil.
8. Aksi nyata
Program
berbasis masyarakat mengarahkan keinginan dan komitment semua pihak, baik PMI,
masyarakat dan Pemerintah ke dalam aksi
nyata yang lebih kongkret sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya
masing-masing.
9. Sustainabilitas
Program
berbasis masyarakat merupakan program yang tidak hanya menfokus kebutuhan
jangka pendek, namun lebih dari itu harus pula berorientasi untuk jangka
panjang. Hasil-hasil yang dicapai serta semua elemen yang mendukung seperti
strategi, pendekatan, model, instrument dan metode yang digunakan harus di
institusionalkan dari generasi ke generasi berikutnya, agar mereka dapat
menjaga, merawat dan mengembangkan program yang telah dilaksanakan.
Sustainbilitas juga berrarti bagaimana masyarakat pada akhirnya dapat mengambil
alih secara mandiri tanggungjawab atas kegiatan-kegiatan di wilayah program
tersebut tanpa lagi bergantung pada pihak pendonor maupun fasilitator dari
luar.[2]
B.
Fungsi
Pendekatan Masyarakat
Suatu hal pasti bahwa melanjutkan fungsi pendidikan di masyarakat
sangat krusial dalam menjaga dan melanjutkan fungsi pendidikan disekolah dan
keluarga, di mana satu sama lain tidak dapat dipisahkan, tetapi integral dalam
membentuk suatu sistem pendidikan yang memberdyakan anak didik dalam pengertian
sesungguhnya. Beberapa pengertian dan pemahaman tentang fungsi pendidikan di
msyarakat ialah sebagai berikut :
1.
Fungsi
Sosialisasi
Di dalam masyarakat praindustri, generasi baru belajar mengikuti
pola perilaku generasi sebelumnya tidak melalui lembaga-lembaga sekolah seperti
sekarang ini. Pada masyarakat praindustri, anak belajar dengan jalan mengikuti
diri dalam aktivitas orang yang lebih dewasa. Anak-anak mengamati apa yang
mereka lakukan, kemudian menirunya dan anak-anak belajar bahsa atau simbol yang
berlaku pada generasi tua, menyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang berlaku,
mengikuti pandangannya dan memperoleh keterampilan tertentu yang semuanya
diperoleh lewat budaya masyarakatnya.[3]
2.
Fungsi Kontrol
Sosial
Sekolah dalam menanamkan nilai-nilai dan loyalitas terhadap tatanan
tradisional masyarakat harus berfungsi sebagai lembaga pelayanan sekolah untuk
melakukan mekanisme kontrol sosial. Durkheim menjelaskan bahwa pendidikan moral
dapat dipergunakan untuk menahan atau mengurangisifat-sifat egoisme pada
anak-anak menjadi pribadi yang merupakan bagian masyarakat terintegral di masa
anak harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab sosial, dalam melalui
pendidikan demikian sebagai individu mengadopsi nilai-nilai sosial dan
melakukan interaksi nalai-nilaitersebut dalam kehidupannya sehari-hari.
Selanjutnya sebagai enggota masyarakat, individu dituntut untuk memberi
dukungan dan berusaha mempertahabkab sosial yang berlaku.[4]
3.
Fungsi
Pelestarian Budaya
Dalam hal ini, dekolah harus menanamkan nilai-nilai yang dapat
menjadikan anak-anak tersebut menjadi generasi yang mencintai daerah, bangsa,
dan tanah air. Untuk memenuhi tuntutan yang harus terlaksana maka perlu disusun
kurikulum yang baku yang berlaku untuk semua daerah dan kurikulum yang di
sesuaikan dengan kondisi dan nilai-nilai daerah tertentu.
Sekolah disamping mempunyai tugas mempersatukan budaya-budaya etnik
yang beraneka ragam juga perlu melestarikan nilai-nilai budaya daerah yang
masih layak di pertahankan. Seperti bahasa daerah, kesenian daerah, budi
pekerti dan suatu upaya mendaya gunakan sumberdayakan sumberdaya lokal bagi kepentingan
sekolah dan sebagainya. Fungsi sekolah berkaitan dengan konservasi nilai-nilai
budaya daerah, setidaknya ada 2 fungsi :[5]
a.
Selah digunakan
sebagai salahsatu lembaga masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai
traadisional masyarakat dari suatu masyarakat pada suatu daerah tertentu.
b.
Sekolah
mempunyai tugas mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa dengan mempersatukan
nilai-nilai yang beragam demi kepentinghan nasional.
4.
Fungsi seleksi
Sekolah mendidik agar seseorang dapat menghargai hakat dan martabat
manusia, dengan memerhatikan segala bakat yang dimilikinya demi keberhasilan
salam tugasnya. Fungsi seleksi membutuhkan latihan untuk menyiapkan tenaga
kerja yang cakap dalam bidang keahlian yang ditekuninya. Fungsi latihan untuk
mendapatkan tenaga kerja yang terampil sesuai dengan bidangnya, sedangkan
fungsi pendidikan untuk menyiapkan seorang pribadi yang baik untuk menjadi
seorang pekerja sesuai dengan bidangnya.
Jika kita amati apa yang terjadi dalam masyarakat dalam rangka
menyiapkan tenaga kerja untuk suatu jabatan tertentu, maka di sana setidaknya
terdapat tiga kegiatan, ayitu kegiatan seleksi, latihan untuk suatu jabatan dan
pengembangan tenaga kerja tertentu. Peroses seleksi initerjadi di segala bidang
baik untuk masuk sekolah maupun untuk masuk pada jabatan tertentu. Lembaga yang
sekolah berfungsi untuk latihan dan pengembangan tenaga kerja mempunyai dua
hal, yaitu :
a.
Sekolah
digunakan untuk menyiapkan tenaga kerja profesional dalam bidang spesialisasi
tertentu. Untuk memenuhi ini berbagia studi dibuka untuk menyiapkan tenaga ahli
yang terampil dan berkemampuan yang tinggi dalam bidangnya.
b.
Sekolah
digunakan untuk memotivasi para pekerja agar memiliki tanggung jawab terhadpa
karier dan pekerjaan yang ditekunya.[6]
5.
Fungsi
Pendidikan dan Perubahan Sosial
Sekolah yang menanamkan sikap, nilai dan pandangan hidup yang
semuanya dapat memberikan kemudahan serta memberikan dorongan bagi terjadinya
perubahan sosila berkesinambungan. Usaha sekolah untuk mengajarkan sistem nilai
dan perspektif ilmiah dan rasional sebgai lawan dan nialai-nilai danpandangan
hidup lama, pasrah dan menyerh pada nasib, ketiadaan menanggung resiko, semua
itu telah diajarkan olah sekolah sejak proses modernisasi dari perubahan sosial
dengan menggunakan cara berfikir ilmiah, cara analisis dan pertimbanganrasional
serta dengan kemampuan evaluasi yang kritis orang akan cenderung berfikir
objektif dan lebih berhasil dalam mengusai alam sekitarnya.
Pendidikan mempunyai fungsi untuk mengadakan perubahan sosial
memiliki beberapa fungsi, yakni ;
a.
Melakukan
reproduksi budaya
b.
Difusi budaya
c.
Mengembangkan
analisis kultur terhadap kelembagaan-kelembagaan tradisional
d.
Melakukan
perubahan-perubahan atau modifikasi tingkat ekonomi sosial tradisional
e.
Melakukan
perubahan yang lebih mendasar terhadap institusi-institusi tradisional yang
telah ketinggalan.[7]
6.
Fungsi Sekolah
dan Masyarakat
Di muka telah dibicarakan tentang adanya tiga bentuk pendidikan,
yaitu pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan nonformal.
Pendidikan formal disebut sekolah, sekolah bukan satu-satunya lembaga yang
menyelenggarakan pendidikan tetapi masih ada lembaga-lembaga lain yang juga
menyelenggarakan pendidikan. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan mempunyai
dua fungsi yaitu:
a.
Sebagai pertner
masyarakat
b.
Sebagai penghasil
tenaga kerja.[8]
PENUTUP
SIMPULAN
Dapat diungkapkan dengan sederhana bahwa kerja sama sekolah,
keluarga, dan komunitas masyarakat dapat mengembangkan iklim dan
program-program sekolah, memberikan pelayanan kepada keluarga/orang tua,
meningkatkan keterampilan dan kepemimpinan bagi orang tua, menghubungkan
keluarga dengan yang lainnya disekolah dan di masyarakat, serta membantu
pendidik dalam tugasnya. Sekolah juga mengenal banyak menggunakan masyarakat
sebagai sumber pelajaran memberikan kesempatan luas dalam mengenal kehidupan
masyarakat.
Sasaran dari program ini adalah masyarakat rentan
yang hidup didaerah rawan serta bersedia untuk menerima perubahan. Prinsip-prinsip utama atau teknik yang diperlukan dalam menjalankan program berbasis masyarakat adalah tercermin dalam akronim KAPASITAS yang dapat dijelaskan berikut ini:
1. Kemitraan
2. Advokasi
3. Pemberdayaan
4. Analisis
5. Swadaya
6. Integrasi
7. Terfokus
8. Aksi nyata
9. Sustainabilitas
DAFTAR PUSTAKA
Idi Abdullah. Sosiologi Pendidkan
Individu, Masyarakat, dan Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada,
2016.
http://pmimurakata.blogspot.co.id/2010/11/pengertian-dan-konsep-pendekatan.html. Senin, 27-03-2017. 13:24.Wib
[1] Abdullah Idi, Sosiologi
Pendidkan Individu, Masyarakat, dan Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada, 2016) hlm.70
[2] http://pmimurakata.blogspot.co.id/2010/11/pengertian-dan-konsep-pendekatan.html. Senin,
27-03-2017. 13:24.Wib
[3] Abdullah, Op.Cit
hlm.74
[4] Abdullah, Op.Cit
hlm.75
[5] Abdullah, Op.Cit hlm.75-76
[6] Abdullah, Op.Cit
hlm.76-77
[7] Abdullah, Op.Cit
hlm.77
[8] Abdullah, Op.Cit
hlm.78