Monday, 24 May 2021

DAMPAK PEMBELAJARAN DARING DI DAERAH

assalamu'alikum. wr.wb

        Hormat saya pada kementerian pendidikan Republik Indonesia, pembahasan kali ini dimulai dengan sistem pembelajaran Daring yang telah diterapkan di Indonesia mulai tahun 2020 lalu dikarenakan dampak epandemi/pandemi Covid-19 yang telah masuk Negara Indonesia tercinta. 

    Banyak yang terdampak dari epandemi/pandemi ini, tidak terkecuali di dunia Pendidikan. dapat dipandang dalam 1 tahun ini banyak pendapat para pemikir Nasionalis yang mangatakan bahwa epandemi/pandemi ini merupakan perang biologi. namun dalam pemikiran beragama dalam baru-baru ini bahwa pandemi merupakan langkah penguasaan salah satu agama. salah satunya yang mencuat yaitu Negara kaum Yahudi yang didukung oleh Kristiani dari negara paman sam yang ingin merebut daerah strategis Palestina. diluar itu semua, saya akan bahas dunia pendidikan di Indonesia yang semakin menurun dalam segi pembelajaran. mulai dari metode dan model pembelajaran yang telah diterapkan di dunia pendidikan Indonesia.

METODE

        Di dunia pendidikan metode pembelajaran adalah suatu hal yang sangat sensitif untuk pencapaian suatu pembelajaran yang dituju, yang dimana tujuan dan materi pendidikan yang baik tanpa didukung metode penyampaian yang baik dapat melahirkan hasil yang tidak baik. Atas dasar itu dunia pendidikan menaruh perhatian yang besar terhadap masalah metode(Rusmaini,Ilmu Pendidikan.116.2014). Keberhasilan atau kegagalan pendidikan dalam melakukan proses pembelajaran banyak ditentukan oleh kecakapan dalam memilih dan menggunakan metode yang tepat. sering kali ditemukan seorang pendidik yang mumpuni dalam pengetahuan tetapi tidak berhasil dalam mendidik, hanya karena dia tidak menguasai metode pendidikan. itulah sebabnya mengapa metode salah satu yang terpenting dalam sebuah perjalanan menuju sesuatu yang di inginkan.

        ada beberapa metode dan model pembelajaran yang ada di dunia pendidikan Indonesia (Rusmaini, 155), yaitu :

  1. metode cerita
  2. metode ceramah
  3. metode tanya jawab
  4. metode diskusi
  5. metode pemberian tugas
  6. metode demonstrasi
  7. metode imstal (perumpamaan)
  8. metode karya wisata
  9. model pembelajaran kooperatif
  • metode STAD (Student Teams Achievement Devision)
  • metode jigsaw
  • metode GI (group Investigation)
  • metode strukutural
        dari beberapa metode dan model diatas, sudah terlihat bahwa datangnya epandemi/pandemi Covid-19 sangat menganggu dunia pendidikan. dan akhirnya dunia pendidikan Indonesia harus mencari dan melaksanakan metode baru yang belum pernah dilaksanakan sebelumnya atau yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya dalam dunia pendidikan, yaitu "DARING". 

     walaupun pada sekitar tahun 2010 sudah dimulai untuk mencoba metode di dunia digital pada pendidikan belum ada titik temu untuk melaksanakan pembelajaran secara Daring atau online, melaikan hanya dalam bentuk pendaftaran atau tes pendaftaran saja yang dilakukan. dalam hal ini sudah 10 tahun terlaksanakan masih banya pendidik dalam dunia pendidikan yang belum menemukan metode yang tepat untuk dilaksanakan pembelajaran secara Daring. 

DAMPAK METODE DARING
1. Pada Peserta Didik dan Pendidik
     Dampak daring yang telah terasa dalam setahun adalah tidak adanya kontak sosial edukatif./interaksi sosial. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal terdiri dari Pendidik dan Peserta Didik, antara mereka sudah barang tentu terjadi adanya saling hubungan, baik antara pendidik dengan pesetrta didik, peserta didik dengan peserta didik. manfaat pergulan yang terbentuk dalam sehari-hari adalah cara yang paling baik dan efektif dalam pembentukan pribadi dan dengan cara ini pula maka hilanglah jurang pemisah antara pendidik dan peserta didik.
     kontak soial antara peserta didik dan pendidik menunjukka bahwa suasana edukasi telah terlaksana secara alami. sesama peserta didik pun dapat saling berkawan dan saling mengajak dan diajak, saling sercerita, saling disiplin diri agar tidak menyinggung persaan temannya.

2. Pada orang tua

    Dampaknya ialah susahnya dalam melakukan kegiatan kesharian dalam rumah tangga yang dilakukan kesehariannya, terkhusus yang anaknya masih menginjak jenjang sekolah dasar dimana orang tua harus mendampingi bahkan mengerjakan tugas yang diberikan secara Daring oleh pendidikan pada masa epandemi/pandemi Covid-19.
    ditambah jika didaerah terpencil orang tua harus mencari nafkah diluar rumah atau ke ladang yang mereka punya pada setiap hari di pagi hari. yang sangat jelas menggangu aktifitas keseharian orang tua untuk menafkahi keluarganya. belum ditambah jika anaknya belum mempunyai alat untuk mengikuti pembelajaran Daring yaitu smartphon/Hp, sangat mempengaruhi semua segi di keluarganya.
    Itu semua masih sebagian kecil yang terlihat dari dampak adanya epandemi/pandemi Covid-19 di Indonesia. masih banyak hal yang terhalang dalam benak orang tua yang belum terlihat. 

3. Pada Sekolah
    Dampak yang ada pada sekolah pada masa pandemi ialah kurang terawatnya lingkungan sekolah karena tidak adanya kegiatan bersih-bersih yang biasa dilakukan oleh peserta didik. ditambah pendidik yang kewalahan mengatasi pembelajaran Daring yang baru saja diperintahkan oleh kementerian pendidikan Republik Indonesia karena belum adanya metode yang jelas dalam pelaksanaannya. 
    Ini semua merupakan sebuah problem yang sangat mempersulit proses pembelajaran yang sebelumnya harus berhadapan dengan era digital dimana para peserta didik disibukkan dengan game yang tersedia di era digital. Yang selanjutnya ialah sulitnya dalam Evaluasi pembelajaran yang telah dilaksanakan secara Daring, dalam konteksnya pembelajaran Daring tidak memenuhi kriteria kurikulum yang telah dijalankan sekarang, K-13 mempunya penilaian Prilaku Peserta Didik yang juga menetukan nilai moral dan sepiritual pesert didik. 

    Dari semua ulasan diatas marupakan sedikit dari setumpuk masalah yang ada pada negara kita, ini semua terinspirasi dari keadaan yang tidak pasti dalam Negara. dimana Negara seharusnya membuat rakyat menjadi aman dalam kehidupan sehari-hari.
    saya berterima kasih pada Menteri Pendidikan Republik Indonesia dalam 1 tahun ini telah berusaha mencari solusi dalam situasi genting negara dan dunia
    Saya Ahiri

wassalamu'alaikum, wr.  wb

Wednesday, 12 June 2019

PROPOSAL PENGARUH KETERAMPILAN GURU DALAM MEMBERI PENGUATAN (RAINFORCEMENT) DAN MOTIVASI SISWA TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA.

PENGARUH KETERAMPILAN GURU DALAM MEMBERI PENGUATAN (RAINFORCEMENT) DAN MOTIVASI SISWA TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA.

LATAR BELAKANG
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan itu sendiri berarti mengarahkan perkembangan manusia kearah masa depan yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan kualitas dan makna hidup. Pendidika merangsang kreatifitas seseorang agar sanggup untuk maju menghadapi tantangan tantangan alam, masyarakat yang kompleks, teknologi yang selalu berkembang serta kehidupan yang makin pelik dan kompleks ini. “pendidikan adalah sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan”.
Dan guru mempunyai peran yang sangat signifikan dalam kemajuan pendidikan. Profesionalisme guru sangat mendukung dalam memajukan pendidikan. Dalam undang undang No 14 tahun 2003 tentang guru dan dosen pasal 8 disebutkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan  tujuan pendidikan nasional.
Guru sebagai seorang pendidik dan mengajar harus memiliki berbagai keterampilan dalam rangka mencapai tujuan dalam pembelajaran. berbagai keterampilan tersebut adalah keterampilan bertanya,  keterampilan mengadakan variasi, keterampilan membuka menutup pelajaran, keterampilan menjelaskan, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengajar perorangan, keterampilan mengelola kelas dan keterampilan memberi penguatan.
sebagai seorang guru dalam proses belajar mengajar hendaknya dapat memahami siswanya, agar nantinya situasi kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik. salah satunya adalah dengan memberikan suatu penguatan baik penguatan secara verbal atau non-verbal kepada siswa apabila siswa mengemukakan pendapatnya atau menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.
Dan Penguatan menjadi salah satu dari delapan keterampilan dasar mengajar. Hal ini dikarenakan penguatan dapat mengubah prilaku siswa. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Anni yaitu “penguatan (reinforcement) merupakan unsur penting dalam di dalam belajar, karena penguatan itu akan memperkuat prilaku.
Disamping pemberian penguatan motivasi belajar siswa juga dapat mempengaruhi keterampilan berbicara, dengan adanya motivasi yang timbul, maka siswa akan bersemangat dalam belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya terutama pada keterampilan berbicara. hal ini seperti pada peran motivasi dalam mencapai keberhasilan belajar yang dikemukakan oleh Sardiman (2007) motivasi belajar adalah dorongan menjadi penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dan mencapai tujuan yaitu untuk mencapai prestasi pada keterampilan berbicara.
Berdasarka hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di MAN 1 Jakabaring pada tanggal 6 Mei 2017, Bapak Tufiq Marzuki M.Pd mengatakan bahwa siswa di MAN 1 telah menguasai terhadap keterampilan berbicara. Dari hasil wawancara di MAN 1 Jakabaring yang dilakukan peneliti dengan siswa diperoleh hasil bahwa pada saat pembelajaran berlangsung guru telah memberikan pujian pada siswa yang berani maju atau manjawab pertanyaan dari guru. Dengan pujian yang diberikan oleh guru, siswa merasa percaya diri sehingga ia tidak takut dan malu lagi untuk maju kedepan kelas untuk mengerjakan soal. Namun tidak semua guru menyadari pentingnya memberi penguatan siswa melalui kata sederhana berupa pujian.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pemberian penguatan oleh guru dalam berlangsungnya proses pembelajaran merupakan hal yang sangat penting, karena dapat memberi pengaruh dalam prestasi belajar khususnya dalam keterampilan berbicara. Maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai penguatan dengan judul “Pengaruh Keterampilan Guru Dalam Memberi Penguatan (reinforcement) Dan Motivasi Siswa Terhadap Keterampilan Berbicara Pada Siswa Kelas X MAN 1 Jakabaring”.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pengaruh keterampilan guru dalam memberi penguatan (reinforcement) terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring?
Bagaimana pengaruh motivasi siswa terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring?
Bagaimana pengaruh keterampilan guru dalam memberi penguatan (reinforcement) dan motivasi siswa terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring?

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh keterampilan guru dalam memberi penguatan (reinforcement) terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring.
Untuk mengetahui pengaruh motivasi siswa terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring.
Untuk mengetahui pengaruh keterampilan guru dalam memberi penguatan (reinforcement) dan motivasi siswa terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring.

Manfaat Penelitian
Manfaat Akademis
Untuk menambah wawasan dalam mengkaji pengaruh keterampilan guru dalam memberi penguatan (Reinforcement) dan motivasi siswa terhadap keterampilan berbicara.
Manfaat Pragmatis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi guru maupun calun guru bahasa arab pada pembelajaran bahasa arab pada pemberian penguatan.
DEFINISI OPERASINAL.
Penguatan Guru (reinforcement)
penguatan adalah suatu respon yang diberikan guru terhadap suatu tingkah laku siswa dengan tujuan agar dapat memungkinkan berulangnya kembali tindakan yang dilakukan siswa tersebut.
Motivasi
Motivasi adalah suatu keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang dapat menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh anak tersebut dapat tercapai.
Keterampilan Berbicara
Keterampilan berbicara merupakan seni tentang berbicara yang merupakan sarana komunikasi dengan bahan lisan meliputi proses penyampaian fikiran, ide, gagasan dengan tujuan melaporkan, menghibur atau meyakinkan orang lain.
HIPOTESA
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.
Berdasarkan latar belakang masalah dan kerangka teori dapat disusun hipotesis sebagai berikut:
Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pemberian penguatan (reinforcement) terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring.
Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara motivasi siswa terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring.
Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pemberian penguatan (reinforcement) dan motivasi siswa terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring.
KERANGKA  TEORI
Keterampilan memberikan penguatan (Reinforcement).
Definisi Keterampilan Memberikan Penguatan (Reinforcement).
Menurut Moh User Usman pengauatan (Reinforcement) adalah segala bentuk respon, apakah bersifat verbal ataupun non verbal yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi si penerima (siswa) atas perbuatanya sebagai sustu tindak dorongan ataupun koreksi. J. Bruner dalam Slameto menyatakan bahawa dalam belajar guru harus memberikan  reinforcement dan umpan balik (feedback) yang optimal pada saat siswa menemukan jawaban. Selain itu Ngalim Purwanto menyebutkan “ penguatan adalah perangsang untuk memperkuat respon yang telah dilakukan oleh guru. Seorang anak yang belajar ( telah melakukan perbuatan) lalu mendapat hadiah, maka ia akan menjadi lebih giat belajar ( responya menjadi lebih kuat).
Keterampilan dasar penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respon yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikaninformasi atau umpan balik bagi siswa atas perbuatan atau responya yang diberikan sebagai sustu dorongan atau koreksi.
Jenis jenis Penguatan
Penguatan Verbal
Penguatan verbal adalah penguatan yang diungkapkan dengan kata kata pujian dan penghargaan atau kata kata koreksi. Melalui kata kata itu siswa merasa tersanjung dan berbesar hati sehingga ia akan merasa puas dan terdorong untuk lebih aktif belajar. Misalnya bagus, bagus sekali, betul, pintar, ya, seratus buat kamu!
Penguatan Nonverbal
Penguatan nonverbal adalah penguatan yang diungkapkan melalui bahasa isyarat. Misalnya melalui anggukan kepala tanda setuju, gelengan kepala tanda tidak setuju, mengernyitkan dahi, mengangkat pundak dan lain sebagainya.
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memberikan penguatan agar penguatan itu dapat meningkatkan motivasi pembelajar.
Kehangatan Dan Keantusiasan
Kebermaknaan
Gunakan Penguatan yang bervariasi
Berikan penguatan dengan segera.
Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa penguatan adalah sustu respon yang diberikan guru terhadap suatu tingkah laku siswa dengan tujuan agar dapat memungkinkan berulangnya kembali tindakan yang dilakukan siswa tersebut.
Motivasi
Thomas M. Risk memberikan pengertian motivasi sebagai berikut: we may definen motivation, in a pedagodical sense, as the concious effort on the part of the teacher to establish in student motives leading to sustained activity toward the lerning goals (motivasi adalah usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif motif pada diri peserta didik/pelajar yang menunjang kegiatan ke arah tujuan tujuan belajar).
Kemudian Prof. Nasution mengemukakan: “to motivate a child to arrange condition so that the wants to do what he is capable doing” (motivasi anak peserta didik adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat dilakukan). Selain itu  Morgan dkk (1996) juga mendefinisikan motivasi sebagai kekuatan yang menggerakan dan mendorong terjadinya perilaku yang diarahkan pada tujuan tertentu. Enggen dan Kauchak (1997) mendefinisika motivasi sebagai kekuatan  yang memberika energi, menjaga kelangsungannya, dan mengarahkan perilaku terhadap tujuan.
Jadi, motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan kata laim, motivasi adalahkondisi psikologisyang mendorong seseoranguntuk melakukan sesuatu.
Keterampilan Berbicara
Keterampilan berbicara (maharah al kalam)adalah kemampuan mengungkapkan bunyi bunyi artikulasi atau kata kata untuk mengekspresikan pikiran berupa ide, pendapat keinginan, atau perasaan kepada mitra bicara. dalam makna yang lebih luas, berbicara merupakan suatu sistem tanda tanda yang dapat didengar dan dilihat yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia untuk menyampaikan pikiran dalam rangka memenuhi kebutuhanya. Bahkan menurut Tarigan (1994) berbicara adalah kombinasi faktor faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik dan linguistik secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial.
Subyakto-Nababan (1993:175) membagi aktivitas ini kedalam dua kategori, yaitu:
Latihan Prakomunikatif
Latihan prakomunikatif tidak berarti bahwa latihan latihan yang dilakukan belum komunikatif, tetapi yang dimaksud membekali para pelajar kemampuan kemampuan dasar dalam berbicara yang sangat diperlukan ketika terjun dilapangan, seperti latihan penerapan pola dialog, kosakata, kaidah,mimik muka, dan sebagainya. Pada tahap ini keterlibatan guru dalam latihan cukup banyak dalam latihan, karena tentu saja setiap unsur kemampuan yang diajarkan perlu diberi contoh.
Ada beberapa teknik yang mungkin dilakukan dalam latihan prakomunikatif, antara lain:
Hapalan Dialog (al-hifzh ‘ala al hiwar)
Dialog melalui gambar (al-hiwar bil-shuwar)
Dialog terpimpin (al-hiwar al-muwajjah)
Dramatisasi tindakan (al-tamtsil al-suluki)
Teknik praktek pola (tatbiq al-mamadziq)
Latihan Komunikatif
Latihan komunikatif adalah latihan yang lebih mengandalkan kreativitas para pelajar dalam melakukan latihan. Pada tahap ini keterlibatan guru secara langsung mulai dikurangi untuk memberi kesempatan kepada mereka mengembangkan kemampuan sendiri. Para pelajar pada tahap ini ditentukan untuk lebih banyak berbicara dari pada guru. Sedangkan penyajian latihan diberikan secara bertahap, dan dianjurkan agar materi latihan dipilih sesuai dengan kondisi kelas.
Beberapa aktivitas yang memungkinkan dilakukan dalam latihan komunikatif secara bertahap adalah sebagai berikut:
Percakapan kelompok (al-hiwar al-jama’i)
Bermain peran (al-tamtsil)
Praktek ungkapan sosial (tathbiq al-ta;birat al-ijtima’iyyah)
Praktek lapangan (al-mumarasah fi al-mujtama’)
Problem solving (hill al-musykilat).
Secara sistematis dapat dibuat skema kerangka pemikiran dalam penelitian ini sebagai berikut:





















Gambar 1 : Kerangka Berpikir

TELAAH PUSTAKA
Skripsi yang ditulis oleh Pertiwi Wahyu Nugraheni yang berjudul “Pengaruh Pemberian Penguatan (Reinforcement) dan Fasilitas Belajar Terhadap Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas X SMA N 1 Klego Boyolali Tahun 2010/2011. Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 1 Klegon Boyolali, menggunakan metode deskriptif yang termasuk pada pendekatan kuantitatif dan pengambilan sampling dengan menggunakan teknik proporsional random sampling dan pengumpulan data menggunakan teknik angket dan dokumen. Hasil dari penelitian ini adalah adanya pengaruh yang signifikan pemberian penguatan (reinforcement) terhadap prestasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas X SMA N 1 Klego Boyolali tahun 2010/2011.
Penelitian Pertiwi Wahyu Nugraheni, menyimpulkan adanya pengaruh yang signifikan pemberian penguatan terhadap prestasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas X SMA N 1 Klego Boyolali tahun 2010/2011, dan hanya penelitian ini berfokus pada pamberi penguatan terhadap prestasi belajar.
Skripsi yang ditulis oleh Trihesty, Oktavika yang berjudul Pengaruh Pemberian Penguatan (Reinforcement) Terhadap Hasil Belajar IPA Pada Siswa Kelas V SD Daerah Binaan V Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang 2015.
Penguatan menjadi salah satu dari delapan keterampilan dasar  mengajar guru. penguatan sangat berperan dalam proses belajar mengajar. penguatan yang dilakukan oleh guru dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa. penguatan dalam kelas akan mendorong siswa meningkatkan usahanya dalam kegiatan belajar mengajar dan mengembangkan hasil belajarnya.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian penguatan terhadap hasil belajar IPA pada siswa kelas V SD Daerah binaan V kecamatan petarukan kabupaten pemalang. penelitian ini menggunakan metode penelitian survei korelasi dengan pendekatan kuantitatif. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah teknik proportionate stratified random sampleing . Variable penelitian meliputi pemberian penguatan sebagai variable bebas dan hasil belajar IPA sebagai variable terikat. teknik perhitungan pengujian hipotesis menggunakan bantuan program SPSS versi 20. Teknik pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi, korelasi, dan koefisien determinasi.
Penelitian Trihesty Oktavika, Lebih fokus pada pemberian penguatan terhadap hasil belajar, bahawa terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian penguatan terhadap hasil belajar Pada Siswa Kelas V SD Daerah Binaan V Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang 2015.
Skripsi yang ditulis oleh Ratna Latifah Jati, yang berjudul Pengaruh penguatan guru terhadap motivasi belajar siswa kelas V SD Negeri se gugus wiropati kecamatan Grabag Kabupaten Magelang. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri se gugus wiropati kecamatan Grabag Kabupaten Magelang, peneliti ini menggunakan penelitian ex-post facto yang termasuk pada pendekatan kuantitatif, dan teknik yang digunakan adalah teknik proportional cluster random sampling. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemberian penguatan dan motivasi belajar siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode angket (questionnarire). Uji validitas yang digunakan adalah uji validitas konstrak instrumen dikonsultasikan kepada ahli kemudian diuji cobakan kepada responden dan dianalisis menggunakan rumus alpha.
Penelitian Ratna Latifah Jati, Lebih fokus pada pemberian penguatan terhadap motivasi belajar siswa , bahawa terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian penguatan terhadap motivasi belajar siswa kelas V SD Negeri se gugus wiropati kecamatan Grabag Kabupaten Magelang.
Berdasarkan penelitian diatas, pemberian penguatan merupakan hal yang sangat penting. Penguatan merupakan respon terhadap suatu prilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali prilaku. Penggunaan penguatan dapat memberikan motivasi belajar kepada siswa. Berdasarkan pernyataan tersebut penulis ingin meneliti tentang Pengaruh keterampilan guru dalam memberi penguatan (reinforcement) dan motivasi siswa terhadap keterampilan kalam.

METODOLOGI  PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam melakukan prosedur penelitian. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, karena pendekatan ini digunakan untuk mengeksplorasi data yang berasal dari tiga variabel tersebut, maka peneliti ini bertujuan untuk mengetahui hungan antara variabel. Adapun metode yang digunakan adalah metode survey. Dan peneliti mengambil lokasi penelitian di MAN 1 Jakabaring.
Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya.
Dalam penelitian ini  variable dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
Variabel bebas ( independent variables)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahanya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Adapun dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebasnya adalah Keterampilan guru dalam memberi penguatan Reinforcement (X1).
Variabel Moderator
Variabel Moderator adalah variabel yang mempengaruhi(memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel independen(bebas) dan (dependen) terikat. Adapun dalam penelitian ini yang menjadi variabel moderatornya adalah motivasi siswa(X2).
Variabel Terikat (dependent variables)
Variabel Terikat adalah variabel variabel yang bergantung pada variabel-variabel bebas. Adapun variabel tersebut adalah keterampilan berbicara(Y).
Adapun bagan penggambaran hubungan variabel yang akan dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut :






Bagan hubungan ketiga variabel











Sehingga peneliti ini menggunakan paradigma ganda dengan dua variabel bebas dan satu variabel terikat, sebagaimana bagan dibawah ini:
Bagan hubungan antara variabel











Dari bagan tersebut dapat disimpulkan bahwa:
Pengaruh keterampilan guru dalam memberi penguatan (reinforcement) terhadap keterampilan berbicara.(R1)
Pengaruh motivasi siswa terhadap keterampilan berbicara.(R2)
Hubungan antara keterampilan guru dalam memberi penguatan (reinforcement) dan motivasi siswa.(R3)
Pengaruh keterampilan guru dalam memberi penguatan (reinforcement) dan motivasi siswa terhadap keterampilan berbicara.(R4)

Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa MAN 1 Jakabaring, yang terdiri dari 862 siswa/siswi. Adapun deskripsi dari populasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Kelas
Jenis
Jumlah perjenis
Jumlah perkelas

X
Putra
123
294


Putri
171


XI
Putra
108
319


Putri
211


XII
Putra
97
249


Putri
152



Jumlah Total

862


Adapun pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Probebility Sampling, yaitu  teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Karena dalam Probebility Sampling terdapat beberapa teknik untuk pengambilan sampel yaitu Simple Random Sampling. Dikatakan Simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperlihatkan strata yang ada dalam populasi itu.  Dari populasi sebanyak 862 siswa, maka peneliti menggunakan sampel yang dikembangkan oleh isaac dan michael. Peneliti menggunakan pengambilan sampel ini karena peneliti berasumsi bahwa populasi dalam penelitian ini adalah heterogen. Karena memiliki tiga variabel dan kelas yang berbeda beda.
Berikut perhitungan sample tersebut:




Bagan jumlah populasi dan sampel












Metode Pengumpulan Data
 Angket/Kuisioner
Angket/Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Teknik pengumpulan data yang efisien bila jumlah responden cukup besar dan luas, dan kuisioner dapat berupa  pertanyaan/ pernyataan tertutup atau terbuka. Dan dapat diberikan kepada responden secara langsung atau tidak langsung. Angket digunakan untuk memperoleh data mengenai keterampilan guru dalam memberi penguatan (reinforcement) dan motivasi siswa.
Metode Test
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, jemampuan serta bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Dengan metode ini peneliti akan mengumpulkan tes yang berisi soal soal untuk mengukur keterampilan berbicara.
Prosedur Pengolahan data
Uji validitas Tes
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat tingkat kevalidan atau keshahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen bisa dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Adapun rumus product moment angka kasar, yaitu:

rxy =

Keterangan :
rxy = Koefesien korelasi antara variabel X dan variabel Y
N    = Jumlah responden
X = Skor masing-masing pertannyaan
Y    = Skor total
Uji validitas non-test
Validitas non-tes dalam hal ini rumus yang digunakan yaitu t atau tes t rumus ini digunakan untuk menguji kebenaran atau kepalsuan hipotesis nihil yang menyatakan bahwa diantara dua buah mean sampel yang diambil secara random dari populasi yang sama tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
 Rumus t tes:
=
Realibitas instrumen
Uji reabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus alpha, karena skor item bukan nol atau satu. Bahwa rumus alpha digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan nol atau satu, misalnya angket atau soal dalam bentuk uraian. Dan untuk mempermudah perhitungan, peneliti menggunakan alat bantu hitung SPSS 13.
Rumus alpha tersebut adalah:

Keterangan:
r = Reliabilitas instrumen
K = banyak butir soal
= Jumlah varian butir
σ    = Varian total


Analisis Data
Analisis Data dalam penelitian ini merupakan jawaban dari rumusan masalah dan hipotesa yang diajukan oleh peneliti dengan menggunakan rumus statistik.

Rumusan Masalah
Hipotesa
Rumus

Bagaimana pengaruh keterampilan guru dalam memberi penguatan (reinforcement) terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring?

Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pemberian penguatan (reinforcement) terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring.




Korelasi product moment dilanjutkan dengan regresi tunggal

Bagaimana pengaruh motivasi siswa terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring?

Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara motivasi siswa terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring.



Bagaimana pengaruh keterampilan guru dalam memberi penguatan (reinforcement) dan motivasi siswa terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring?
Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pemberian penguatan (reinforcement) dan motivasi siswa terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas X di MAN 1 Jakabaring.



Regresi ganda


Adapun penjabaran dari rumus-rumus diatas adalah:
Rumus product moment

rxy =

Keterangan :
rxy = Koefesien korelasi antara variabel X dan variabel Y
N    = Jumlah responden
X = Skor masing-masing pertannyaan
Y    = Skor total
Rumus regresi tunggal

Y = a + bX
Keterangan :
Y = Variabel terikat
X = Variabel bebas
a dan b = Koefisien regresi
Rumus regresi ganda


Keterangan :
Y = Prestasi belajar akuntansi
= Kontanta
= Variabel tipologi belajar
= Variabel kesulitan belajar
= Koefisien regresi
Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan skripsi ini, peneliti menyajikan pembahasan yang merupakan pola dasar dari pembahasan skripsi dalam bentuk bab dan subbab yang secara logis dan berhunguan yang terdiri dari lima bab dengan pembahasan sebgai berikut :
Bab I merupakan  pendahuluan yang mencakup tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka teori, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II membahas landasan teori tentang pengaruh keterampilan guru dalam memberi penguatan dan motivasi siwa terhadap keterampilan berbicara.
Bab III  memaparkan gambaran umum tentang tempat penelitian yaitu MAN 1 Jakabaring, berupa letak georgarafis, sejarah berdiri, visi misi dan tujuan, keadaan guru, serta sarana prasarana pendidikan.
Bab IV merupakan analisa data tentang keterampilan guru dalam memberi penguatan dan motivasi siwa terhadap keterampilan berbicara siswa di MAN 1 Jakabaring.
Bab V merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan, saran-saran dan kata penutup, kemudian daftar pustaka, dan lampiran-lampiran yang terkait dengan penelitian.

Monday, 24 April 2017

TEKNIK PENDEKATAN KEPADA MASYARAKAT DESA



PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara majemuk dengan beragam suku dan budaya. Pembangunan di Indonesia  dewasa ini merujuk pada pembangunan yang berbasis pada masyarakat. Pengembangan masyarakat merupakan salah satu upaya dalam melakukan pembangunan. Pengembangan masyarakat menitikberatkan kepada partisipasi masyarakat. Kegiatan swadaya yang dilaksanakan oleh masyarakat memerlukan partisipasi masyarakat. Sinergi antara masyarakat dengan stakeholder terkait seperti pemerintah dan pihak swasta diperlukan guna menunjang usaha swadaya masyarakat. Tujuan dari usaha swadaya masyarakat adalah menigkatkan taraf hidup masyarakat yang artinya berujung pada kesejahteraan dibidang ekonomi dan sosial. Agar tercapai pembangunan yang efektif diperlukan inisiatif dari masyarakat serta adanya pelayanan teknis untuk masyarakat.
Partisipasi masyarakat diperlukan untuk melakukan program pengembangan masyarakat. Upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat digunakan metode-metode partisipatif. Terdapat tiga pendekatan pendampingan masyarakat yaitu pendekatan menolong diri sendiri, pendampingan teknik, dan pendekatan konflik. Pendekatan menolong diri sendiri menitikberatkan pada peran masyarakat sebagai partisipan dalam melakukan kegiatan dan juga kontrol kegiatan, pendamping hanya sebatas fasilitator. Pendekatan pendampingan teknik mendasarkan pada perkiraan kebutuhan oleh para perencana yang dapat mengantarkan dan mengevaluasi proses pengembangan masyarakat. Pendekatan konflik menekankan pada upaya-upaya untuk menyadarkan masyarakat bahwa yang dilakukan oleh orang lain juga baik jika dilakukan oleh masyarakat tersebut.



PEMBAHASAN
A.    Pendekatan Masyarakat
Pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk dan menciptakan masyarakat sesuai dengan yang diharapkan. Dengan adanya pendidikan, apa yang diciti-citakan masyarakat dapat diwujudkan melalui anak didik sebagai generasi masa depan. Salah satu peran pendidikan dalam masyarakat adalah dalam fungsi sosial, yakni sekolah merupakan salah sarana pendidikan yang diharapkan.
Sekolah dalam menanamkan nil;ai-nilai dan totalitas terhadap tatanan tradisional masyarakat berfungsi sebagai lembaga pelayanan sekolah untuk melakukan mekanisme kontrol sosial (social control). Dapat diungkapkan dengan sederhana bahwa kerja sama sekolah, keluarga, dan komunitas masyarakat dapat mengembangkan iklim dan program-program sekolah, memberikan pelayanan kepada keluarga/orang tua, meningkatkan keterampilan dan kepemimpinan bagi orang tua, menghubungkan keluarga dengan yang lainnya disekolah dan di masyarakat, serta membantu pendidik dalam tugasnya. Sekolah juga mengenal banyak menggunakan masyarakat sebagai sumber pelajaran memberikan kesempatan luas dalam mengenal kehidupan masyarakat.
Pendekatan sistemik terhadap pengembangan masyarakat melalui pendidikan adalah pendekatan di mana masyarakat tradisional sebagai input dan pendidikan sebagai suatu lembaga pendidikan masyarakat sebagai pelaksana proses pengembangan masyarkat yang dicita-citakan, sebagai output yang dikehendaki. Ki. Hajar Dewantoro pernah mengatakan ada tiga lingkungan pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sejak awal, dalam Tap MPR No. 1/MPR/1998 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) telah mencantumkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab: orang tua, pemerintah dan masyarakat. Tampak dalam Undang-undang No 2/20019 tentang sistem Pendidikan Nasional, dikatakan pula bahwa bentuk pendidikan juga dibagi menjadi tiga: pendidikan formal, informal, dan nonformal.[1]
Pendekatan Masyarakat ialah suatu langkah untuk mencapai tujuan Pendidikan yang telah tercantum dalam Undang-undang No. 2/1999 yang menjelaskan bahwa salah satu pendidikan yaitu pendidikan formal yang berjalan terdiri dari empat jenjang: Sekolah Dasar/MI, Sekolah Menengah Pertama/MTs, Sekolah Menengah Atas/MA dan Perguruan Tinggi/PT. Dari UU No. 2/1999 ini maka menjelaskan bahwa pendidikan rakyat di Indonesia harus mencapai atau memenuhi kebutuhan masyarakat yang mumpuni untuk kemajuan Bangsa dan Negara di Indonesia. Dengan demikian maka akan terciptanya manusia Indonesia yang berilmu pengetahuan, berteknologi dan beriman-bertaqwa (Iptek-Imtek), proses pendidikan pun harus berupaya menuju kearah tujuan pembangunan nasional.
Community Based atau pendekatan yang Berbasis Masyarakat adalah upaya pemberdayaan kapasitas masyarakat untuk dapat mengenali, menalaah dan mengambil inisiatif untuk memecahkan permasalahan yang ada secara mandiri. Tujuan dari pendekakatan yang berbasis masyarakat adalah meningkatnya kapasitas masyarakat  dan mencoba untuk menurunkan kerentanan individu, keluarga dan masyarakat luas serta adanya perubahan masyarakat dalam upaya menangani permasalahan yang terjadi di lingkungannya. Disamping itu program berbasis masyarakat menggunakan pendekatan yang berbasis realita bahwa dengan cara-cara yang relatif sederhana dan mudah dilaksanakan , maka masyarakat di kalangan bawahpun dapat melakukan perubahan yang positif untuk menuju ke arah yang lebih baik.
Sasaran dari program ini adalah masyarakat rentan yang hidup didaerah rawan serta bersedia untuk menerima perubahan. Dan juga Penekanan perencanaan program berbasis masyarakat lebih bersifat internal dari pada factor ekternal dengan pendekatan bottom up, bukan top down.  Potensial ancaman tidak di luar, namun di dalam dengan sistem sosial. Untuk mengurangi tingkat ancaman / bahaya dan risiko kejadian bencana harus menjadi bagian dari pertimbangan pembangunan.
Prinsip-prinsip utama atau teknik yang diperlukan dalam menjalankan program berbasis masyarakat  adalah tercermin dalam akronim KAPASITAS yang dapat dijelaskan berikut ini:
1.    Kemitraan
Program berbasis masyarakat hanya akan berhasil optimal bila ada kemitraan, dan partisipasi yang sangat tinggi dari semua komponen yang ada di sektor masyarakat, pemerintah maupun institusi / LSM lainnya. Memperkuat kemitraan dan partisipasi dalam hal ini tidak hanya diarahkan pada penyediaan dana, material dan tenaga, namun juga dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasianya, termasuk sustainabilitas program.  Memperkuat kemitraan dan partisipasi dimaksudkan juga membina komunikasi, koordinasi dan kerjasama dari berbagai disiplin dan profesi terkait seperti meteorologis, pekerja pengembangan masyarakat, praktisi kesehatan ekonom, biolog, medis/ paramedis, geolog, pekerja sosial, insinyur, konselor, guru dan sebagainya.
2.    Advokasi
Program berbasis masyarakat sangat memerlukan upaya advokasi, sosialisasi, dan kolaborasi dari semua pihak yang berkepentingan dengan upaya memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat. Advokasi pada pihak-pihak internal PMI (seperti staff, Pengurus, relawan dan para pelatih) maupun pihak-pihak eksternal (seperti Pemerintah, Bakornas, Satkorlak,  Satlak PB, LSM,  Badan,  dinas, masyarakat dan instansi lainnya) sangat menentukan pelaksanaan program maupun keberlangsungannya. Upaya advokasi ini diharapkan dapat membina komunikasi dan kerjasama sama yang sangat kuat dalam mencapai tujuan program.
3.    Pemberdayaan
Program berbasis masyarakat diharapkan dapat menurunkan tingkat kerentanan masyarakat dilaksanakan dengan memberdayakan kapasitas masyarakat. Tumbuhnya ketidakpastian situasi lingkungan, fisik, sosial, ekonomi dan politik menyebabkan warga dan masyarakat lainnya menjadi sangat rentan terhadap bahaya dan dampak bencana. Hal ini memerlukan banyak upaya bagaimana masyarakat dapat diberdayakan kapasitasnya melalui pengorganisasian / mobilisasi masyarakat dalam kesiapsiagaan bencana, penyadaran sosial dan ekonomi, penyadaran lingkungan, pendidikan / pelatihan dan sejenisnya.
Pemberdayaan masyarakat dalam pengambilan keputusan, perencanaan, pembuatan kebijakan dan program berbasis masyarakat, diperlukan agar masyarakat  memiliki akses untuk mengontrol inputs, proses, outputs dan keberlangsungan program berbasis masyarakat.
4.    Analisis
Pelaksanaan Program yang berbasis masyarakat harus berdasarkan hasil pengenalan situasi, dan analisis internal dan eksternal secara mendalam tentang kondisi riil masyarakat. Masyarakat harus diajak untuk mengenali situasi lingkungannya. Setelah itu, mereka harus diajak untuk menganalisis internal dan eksternal untuk mengetahui permasalahan yang ada , sekaligus penyebab dari permaslahan itu sendiri.
Hasil analisis yang dilakukannya oleh masyarakat itu sendiri, diharapkan dapat membuat masyarakat menjadi sadar, bahwa ada hal-hal yang memicu kerentanan mereka yang mereka buat sendiri atau karena lebih disebabkan karena faktor eksternal. Mereka sadar bahwa mereka mestinya dapat mengatasi kerentanan tersebut, asal mereka melakukan upaya-upaya penurunan tingkat bahaya, risiko dan dampak yang terjadi.
5.    Swadaya
Program berbasis masyarakat menggunakan pendekatan Bottom – Up, bukan Top – Down. Sebagai yang berbasis pada masyarakat, maka keberhasilan pelaksanaannya sangat bertumpu pada swadaya masyarakat sendiri. Dalam artian, menggunakan sumber-sumber daya, potensi, dan komponen-komponen yang telah dimiliki oleh masyarakat. Mulai proses perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, masyarakat harus diberikan peran utama.  Dalam proyek mitigasi misalnya, harus memanfaatkan tenaga masyarakat, sumber-sumber material, infrastruktur serta fasilitas yang ada. Peranan pihak eksternal adalah menfasilitasi dan menambahkan sumber-sumber yang belum ada, yang pada akhirnya sepenuhnya akan diserahkan pengelolaannya pada swadaya masyarakat.
6.    Integrasi
Program berbasis masyarakat mengintegrasikan model, instrument, metode, pendekatan dan strategi dengan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat.  pada ummnya masyaarakat memiliki pengethuan tersendiri dalam menghadapi permaslahan yang ada baik yang rasional maupun yang irasional. Dan program ini mengintegrasikan berbagai pola dari berbagai sumber namun tetap terintitusioan dalam pola dan tananan kehidupan masyarakat setempat.
7.    Terfokus
Program berbasis masyarakat harus menfokus pada pemenuhan kebutuhan utama masyarakat , serta benar-benar memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat. Untuk itu, Program ini  memerlukan pemrograman sistem, prosedur dan pedoman operasional serta pelibatan penuh masyarakat secara fisik, mental dan emosional. Maksud diperlukannya pemrograman sistem, prosedur dan pedoman operasional adalah untuk memastikan efisiensi dan pemanfaatan sumber-sumber daya seperti dana, waktu, material, informasi dan teknologi yang benar-benar terfokus pada tujuan riil.
8.    Aksi nyata
Program berbasis masyarakat mengarahkan keinginan dan komitment semua pihak, baik PMI, masyarakat dan Pemerintah ke dalam  aksi nyata yang lebih kongkret sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing.
9.    Sustainabilitas
Program berbasis masyarakat merupakan program yang tidak hanya menfokus kebutuhan jangka pendek, namun lebih dari itu harus pula berorientasi untuk jangka panjang. Hasil-hasil yang dicapai serta semua elemen yang mendukung seperti strategi, pendekatan, model, instrument dan metode yang digunakan harus di institusionalkan dari generasi ke generasi berikutnya, agar mereka dapat menjaga, merawat dan mengembangkan program yang telah dilaksanakan. Sustainbilitas juga berrarti bagaimana masyarakat pada akhirnya dapat mengambil alih secara mandiri tanggungjawab atas kegiatan-kegiatan di wilayah program tersebut tanpa lagi bergantung pada pihak pendonor maupun fasilitator dari luar.[2]

B.     Fungsi Pendekatan Masyarakat
Suatu hal pasti bahwa melanjutkan fungsi pendidikan di masyarakat sangat krusial dalam menjaga dan melanjutkan fungsi pendidikan disekolah dan keluarga, di mana satu sama lain tidak dapat dipisahkan, tetapi integral dalam membentuk suatu sistem pendidikan yang memberdyakan anak didik dalam pengertian sesungguhnya. Beberapa pengertian dan pemahaman tentang fungsi pendidikan di msyarakat ialah sebagai berikut :
1.    Fungsi Sosialisasi
Di dalam masyarakat praindustri, generasi baru belajar mengikuti pola perilaku generasi sebelumnya tidak melalui lembaga-lembaga sekolah seperti sekarang ini. Pada masyarakat praindustri, anak belajar dengan jalan mengikuti diri dalam aktivitas orang yang lebih dewasa. Anak-anak mengamati apa yang mereka lakukan, kemudian menirunya dan anak-anak belajar bahsa atau simbol yang berlaku pada generasi tua, menyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang berlaku, mengikuti pandangannya dan memperoleh keterampilan tertentu yang semuanya diperoleh lewat budaya masyarakatnya.[3]

2.    Fungsi Kontrol Sosial
Sekolah dalam menanamkan nilai-nilai dan loyalitas terhadap tatanan tradisional masyarakat harus berfungsi sebagai lembaga pelayanan sekolah untuk melakukan mekanisme kontrol sosial. Durkheim menjelaskan bahwa pendidikan moral dapat dipergunakan untuk menahan atau mengurangisifat-sifat egoisme pada anak-anak menjadi pribadi yang merupakan bagian masyarakat terintegral di masa anak harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab sosial, dalam melalui pendidikan demikian sebagai individu mengadopsi nilai-nilai sosial dan melakukan interaksi nalai-nilaitersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Selanjutnya sebagai enggota masyarakat, individu dituntut untuk memberi dukungan dan berusaha mempertahabkab sosial yang berlaku.[4]

3.    Fungsi Pelestarian Budaya
Dalam hal ini, dekolah harus menanamkan nilai-nilai yang dapat menjadikan anak-anak tersebut menjadi generasi yang mencintai daerah, bangsa, dan tanah air. Untuk memenuhi tuntutan yang harus terlaksana maka perlu disusun kurikulum yang baku yang berlaku untuk semua daerah dan kurikulum yang di sesuaikan dengan kondisi dan nilai-nilai daerah tertentu.
Sekolah disamping mempunyai tugas mempersatukan budaya-budaya etnik yang beraneka ragam juga perlu melestarikan nilai-nilai budaya daerah yang masih layak di pertahankan. Seperti bahasa daerah, kesenian daerah, budi pekerti dan suatu upaya mendaya gunakan sumberdayakan sumberdaya lokal bagi kepentingan sekolah dan sebagainya. Fungsi sekolah berkaitan dengan konservasi nilai-nilai budaya daerah, setidaknya ada 2 fungsi :[5]
a.       Selah digunakan sebagai salahsatu lembaga masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai traadisional masyarakat dari suatu masyarakat pada suatu daerah tertentu.
b.      Sekolah mempunyai tugas mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa dengan mempersatukan nilai-nilai yang beragam demi kepentinghan nasional.

4.    Fungsi seleksi
Sekolah mendidik agar seseorang dapat menghargai hakat dan martabat manusia, dengan memerhatikan segala bakat yang dimilikinya demi keberhasilan salam tugasnya. Fungsi seleksi membutuhkan latihan untuk menyiapkan tenaga kerja yang cakap dalam bidang keahlian yang ditekuninya. Fungsi latihan untuk mendapatkan tenaga kerja yang terampil sesuai dengan bidangnya, sedangkan fungsi pendidikan untuk menyiapkan seorang pribadi yang baik untuk menjadi seorang pekerja sesuai dengan bidangnya.
Jika kita amati apa yang terjadi dalam masyarakat dalam rangka menyiapkan tenaga kerja untuk suatu jabatan tertentu, maka di sana setidaknya terdapat tiga kegiatan, ayitu kegiatan seleksi, latihan untuk suatu jabatan dan pengembangan tenaga kerja tertentu. Peroses seleksi initerjadi di segala bidang baik untuk masuk sekolah maupun untuk masuk pada jabatan tertentu. Lembaga yang sekolah berfungsi untuk latihan dan pengembangan tenaga kerja mempunyai dua hal, yaitu :
a.       Sekolah digunakan untuk menyiapkan tenaga kerja profesional dalam bidang spesialisasi tertentu. Untuk memenuhi ini berbagia studi dibuka untuk menyiapkan tenaga ahli yang terampil dan berkemampuan yang tinggi dalam bidangnya.
b.      Sekolah digunakan untuk memotivasi para pekerja agar memiliki tanggung jawab terhadpa karier dan pekerjaan yang ditekunya.[6]

5.    Fungsi Pendidikan dan Perubahan Sosial
Sekolah yang menanamkan sikap, nilai dan pandangan hidup yang semuanya dapat memberikan kemudahan serta memberikan dorongan bagi terjadinya perubahan sosila berkesinambungan. Usaha sekolah untuk mengajarkan sistem nilai dan perspektif ilmiah dan rasional sebgai lawan dan nialai-nilai danpandangan hidup lama, pasrah dan menyerh pada nasib, ketiadaan menanggung resiko, semua itu telah diajarkan olah sekolah sejak proses modernisasi dari perubahan sosial dengan menggunakan cara berfikir ilmiah, cara analisis dan pertimbanganrasional serta dengan kemampuan evaluasi yang kritis orang akan cenderung berfikir objektif dan lebih berhasil dalam mengusai alam sekitarnya.
Pendidikan mempunyai fungsi untuk mengadakan perubahan sosial memiliki beberapa fungsi, yakni ;
a.       Melakukan reproduksi budaya
b.      Difusi budaya
c.       Mengembangkan analisis kultur terhadap kelembagaan-kelembagaan tradisional
d.      Melakukan perubahan-perubahan atau modifikasi tingkat ekonomi sosial tradisional
e.       Melakukan perubahan yang lebih mendasar terhadap institusi-institusi tradisional yang telah ketinggalan.[7]

6.    Fungsi Sekolah dan Masyarakat
Di muka telah dibicarakan tentang adanya tiga bentuk pendidikan, yaitu pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan nonformal. Pendidikan formal disebut sekolah, sekolah bukan satu-satunya lembaga yang menyelenggarakan pendidikan tetapi masih ada lembaga-lembaga lain yang juga menyelenggarakan pendidikan. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan mempunyai dua fungsi yaitu:
a.       Sebagai pertner masyarakat
b.      Sebagai penghasil tenaga kerja.[8]


PENUTUP
SIMPULAN
Dapat diungkapkan dengan sederhana bahwa kerja sama sekolah, keluarga, dan komunitas masyarakat dapat mengembangkan iklim dan program-program sekolah, memberikan pelayanan kepada keluarga/orang tua, meningkatkan keterampilan dan kepemimpinan bagi orang tua, menghubungkan keluarga dengan yang lainnya disekolah dan di masyarakat, serta membantu pendidik dalam tugasnya. Sekolah juga mengenal banyak menggunakan masyarakat sebagai sumber pelajaran memberikan kesempatan luas dalam mengenal kehidupan masyarakat.
Sasaran dari program ini adalah masyarakat rentan yang hidup didaerah rawan serta bersedia untuk menerima perubahan. Prinsip-prinsip utama atau teknik yang diperlukan dalam menjalankan program berbasis masyarakat  adalah tercermin dalam akronim KAPASITAS yang dapat dijelaskan berikut ini:
1.      Kemitraan
2.      Advokasi
3.    Pemberdayaan
4.    Analisis
5.    Swadaya
6.    Integrasi
7.    Terfokus
8.    Aksi nyata
9.    Sustainabilitas






DAFTAR PUSTAKA

Idi Abdullah. Sosiologi Pendidkan Individu, Masyarakat, dan Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2016.


[1] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidkan Individu, Masyarakat, dan Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2016) hlm.70
[3] Abdullah, Op.Cit hlm.74
[4] Abdullah, Op.Cit hlm.75
[5]  Abdullah, Op.Cit hlm.75-76
[6] Abdullah, Op.Cit hlm.76-77
[7] Abdullah, Op.Cit hlm.77
[8] Abdullah, Op.Cit hlm.78